Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Masih pada setia jadi anak blog kan?
Atau udah pada gak suka baca dan lebih suka nonton youtube?
Emang sih jaman ini youtube lebih asik, seru, variatif, dan hampir semua hal ada disana.
Tapi ada beberapa hal yang kurang lengkap di youtube dan malah justru hanya ada di blog-blog tua yang udah ditulis lamaaaa banget.
Aku sendiri emang belum pede aja untuk bikin vlog, so masih stay di blog meskipun lama gak update, hehe.
Okay, jadi singkat cerita aku nikah pada tanggal 12 Januari 2019 dan belum terlalu berencana untuk memiliki anak, tapi gak nolak juga sih. Waktu itu suami lagi dirumahkan 3 bulan, tapi masih makan gaji, dan aku tetep kerja kaya biasanya. Ada yang aneh tapi entah apa. Jadi setiap berhubungan sperma suami selalu keluar lagi, tapi kita masih gak ambil pusing waktu itu. Sampe akhirnya aku mutusin untuk gak mau disambung kontrak pada awal Agustus 2019. Beberapa bulan makan tidur di rumah masih belum membuat aku bosan, walaupun posisinya suami kerja di kapal di Malaysia yang hanya cuti 7hari dalam sebulan. Pokoknya gak ada masalah berarti yang kita rasain. Sampe akhirnya kita sadar kok kayanya kita keasikan dengan hidup ini dan mulai pengen punya anak, dan setelah memperhatikan masalahnya, baca blog dan nonton youtube, ternyata haidku gak lancar dan sperma suamiku encer.
22 Oktober 2019, kita ke dokter niatnya pengen promil. Aku di USG abdomen atau USG melalui perut, dan dokter bilang gak ada masalah kok, terus aku dikasih 2 macam obat untuk dihabiskan lebih kurang 10 hari dan setelah itu aku kemungkinan akan haid, lalu disuruh kembali ke dokter setelah 2 minggu. Suami juga disarankan untuk cek sperma di lab Prodia. Untuk biaya yang aku habiskan di dokter sebesar 20rb pendaftaran, 120rb USG, 200rb obat. Untuk cek sperma di Prodia kalo gak salah sekitar +-400rb gitu. Setelah hasil tes keluar ternyata hasilnya suamiku menderita teratozoospermia, yaitu bentuk sel spermanya tidak normal, untuk suamiku sendiri hanya 2% yang normal. Sementara aku mendiagnosa diriku sendiri PCOS, meskipun belum ada diagnosa dari dokter. Setelah itu kita kecewa banget pastinya, dan mulai seliweran di blog dan vlog.
Ketemu lah aku dengan produk Herbal HPAI, dan di sarankan suami mengonsumsi Truson, Gamat, Madu Premium, dan Kopi HPAI. Dan untuk PCOS ku disarankan minum kopi HPAI, Madu Multiflora, dan Harumi. Semuanya kita ikutin kecuali Madu Multiflora itu aku ganti dengan Madu Premium, karena rasanya gak enak dan aku gak bisa telan. Kita konsumsi HPAI sejak November awal, yah meskipun masih ada bolong2 karena terbentur tanggal 6 November 2019 kita trip ke Bali selama seminggu. Dan setelah 2 hari stay di Bali, aku haid š angan2 untuk honeymoon pun sirna, hahahaha. Sebulan penuh konsumsi sekita 5-10% bolong2. Lalu di Desember mungkin gak sampe sebulan kita konsumsi dan udah mulai ada perubahan di sperma suami. Meskipun haidku masih gak lancar. Kebetulan aku hobby urut, jadi pulang dari Bali sempat urut rahim juga.
30 Desember 2019 aku masih haid selama 5 hari. Lalu 12 Januari 2020, suami cuti sehari buat rayain anniv pernikahan, hari itu kita pergi urut ke tukang urut rekomendasi dari abang iparnya suamiku. Kita berdua pun diurut. Besoknya suami balik kerja dan kita juga gak berharap dapet secepat itu. Tangal 23 Januari itu aku sempat konsumsi kurma muda 7 buah/hari sampai sebelum aku berangkat ke Bogor, dan juga aku barengi dengan promil jeruk nipis ala dewi yul yang hanya berlangsung dari tanggal 21 januari sampai 26 Januari 2020.
25 Januari 2020 kita berangkat ke Bogor untuk acara nikah sepupu aku tanggal 26. Kita stay di Jakarta di rumah kakaknya suamiku 1 malam, sebelum besoknya ke Bogor pagi2 banget. Singkat cerita tanggal 27 sore aku sakit, dan besoknya ada jadwal urut rahim sama istrinya sepupuku yang nikah Maret lalu dan emang udah divonis PCOS sama dokter. Tapi karena aku sakit, jadi pagi itu aku tolak untuk urut karena urutnya di gedung penginapan, sementara malam sebelumnya aku nginap di rumah nenekku. Setelah istri sepupuku urut, dia nelfon dan nyuruh aku dateng aja, untuk di cek, kalo misalnya belum isi baru diurut. Entah kenapa aku berangkat tanpa banyak tanya meskipun kepala sakit. Baru aja disentuh perutku sama emak tukang urut itu, dia langsung bilang “Waaahh ini mah udah ada isinya neng”. Yah seneng, yah kaget, yah semuanyalah dan gak langsung percaya juga sih. Fix rencana ke Bandung gagal, langsung ke apotek beli testpack, dan hasilnya negatif. Tanggal 29 Januari 2020, aku ke Bidan karena semaleman panasku gak turun, jadi pagi2 ke Bidan, dan sempat testpack juga disana tapi negatif, cuma bidan ngasih obat dengan dosis rendah karena takut aku beneran hamil. Agak mendingan sih setelah minum obat, meskipun masih gabisa makan, gabisa bangun, dan lemes banget. Tapi karena tanggal 31 kita harus ke Jakarta, so aku panggil lagi si emak tukang urut supaya besoknya strong buat naik kereta ke Jakarta. Disitu emaknya bilang ke suami yang masih ragu kalo aku hamil bahwa aku emang hamil, terus aku di kasih air yang udah dibaca2in katanya buat bekal ke Jakarta dan ke Batam supaya kuat.
Penasaran, akupun langsung beli testpack 𤣠dan yah jelas lah negatif. Tanggal 31 Januari 2020 kita ke Jakarta buat nginap dirumah kakak iparku sebelum besoknya bertolak kembali ke Batam. Masih dengan penuh penasaran hari itu kita USG di Jakarta, dan kosongggg. Balik ke Batam dengan perasaan gantung, pengen bahagia tapi belum jelas hamil gak nya. Tanggal 7 Februari 2020 sebelum suami kembali kerja, aku testpack lagi dan negatif lagiii, ih kesel. Beberapa hari setelah itu aku merasa payudaraku besar tapi gak kencang seperti mau haid melainkan lembut dan besar. 12 Februari 2020 aku beraniin testpack dan hasilnya buram sekali, sampe ku tanya ke mama. Kata mama sih positif. 14 Februari 2020, aku testpack lagi dengan hasil lebih jelas dari sebelumnya, dan sorenya langsung ke dokter untuk USG. Tapi jangankan janin, rahim pun gak terlihat karena sebelumnya aku kencing. Tanggal 18 suamiku pulang, dan kita ke dokter yang berbeda, hasil USG menunjukkan rahimku kosong, tapi karena dokter ini yang menangani aku waktu pertama kali promil di Oktober, jadi mungkin dia gak mau kita kecewa. jadi dia bilang, mau gak testpack lagi disini. Akupun testpack disana dan hasilnya sangat jelas, dokter langsung bilang “Selamat yaaah bu.. pak.. 3 minggu lagi kontrol lagi, mudah2an jantungnya sudah terdengar.
Tanggal 4 Maret 2020, kita USG ke dokter yang USG tanggal 14 Februari 2020 itu, dan barulah keliatan kantong janin dan seperti ada penebalan di kantung janin yang katanya merupakan bakal janin, akupun dinyatakan hamil 6-7 minggu. Senangnyaaa tak bisa dideskripsikan. Buat temen2 yang masih menanti buah hati, tetep semangat dan ikhtiar dengan cara apapun, jangan lupa berdoa dan melakukan amalan2 untuk mendapatkan keturunan secara islami tentunya. Tunggu tulisanku berikutnya tentang amalan doa dan bacaan apa aja yang aku amalkan untuk mendapatkan kehamilan ini. Dan yang terpenting jangan terlalu dipikirkan, jaga hati tetap positif khususnya ketika melihat anak bayi orang lain, ini melatih kita lebih ikhlas juga. Semoga tulisanku kali ini bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar