Kamis, 22 September 2016
Terbaik di antara yang baik
Pernah memiliki seseorang yang rasanya tak mungkin lagi terlepas. Rasanya mati jika dia hilang. Sampai di satu titik aku harus merelakan dia pergi dengan ketidaktahuanku. Masih jadi pertanyaan besar hingga detik ini mengapa dia pergi dariku. Setelah lama melupakan kisah yang kelam, jantungku masih saja berdetak untuknya. Harapan agar dia kembali padaku masih hidup di dalam diri ini. Hingga saat aku bertemu kembali dengannya, mencoba mencurahkan segala yang kurasa dan berharap dia masih orang yang sama seperti aku yang masih mencintainya. Ternyata aku salah, kenyamanan yang kudapat darinya dulu, kini tak ada lagi. Bahkan berdekatan dengannya pun terasa sangat hambar. Akhirnya aku memutuskan untuk merubah segala sisi dihatiku yang masih ku hadiahi untuknya. Perlahan, ku buka pintu hatiku untuk yang lain sembari mengatakan tidak mungkin ada lagi yang seperti dia. Satu, dua orang pun datang, semuanya hanya singgah, bukan menetap. Hingga aku memutuskan mengakhiri pencarian, akupun merubah diriku. Bagiku tak akan ada lagi yang datang, maka baiknya aku menutup diri dan hatiku. Aku pun berkenalan dengan seseorang dan mencoba menjalin hubungan tanpa ada proses pertemanan terlebih dahulu. "Ah, kalau tidak cocok juga, sudahlah" pikirku tenang. Satu bulan, dua bulan, rasa cinta itu tumbuh semakin besar. Kami hanya berusaha menjalankan peran masing-masing untuk saling support, saling membantu, dan saling menghargai. Dengan masa hampir 2 tahun kami bersama, akhirnya aku mengerti rencana Tuhan dengan memisahkan aku dengan dia yang dulu. Sekarang, aku selalu percaya bahwa apapun yang terjadi padaku adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan padaku. Niat baikku untuk meneruskan ini hingga jenjang yang lebih serius lagi tetap ada, tapi lagi-lagi tangan Tuhan lah yang akan mewujudkannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar