Kamis, 02 November 2017

Coretan Hati

Hidup di dalam hatimu adalah bahagiaku. Hidup denganmu merupakan dambaanku. Aku takut kelak kau akan mengusirku jauh dari hidupmu. Maka kulakukan apapun yang membuatmu bahagia. Kuserahkan seluruh hidup dan hatiku hanya padamu. Lelah dan waktu hanya untukmu. Tapi bagaimana jika kebohonganmu menghancurkan kepercayaanku, membentuk kecewaku. Ribuan kali kau bohongi aku, kau curangi aku, tapi bagiku semua manusia bisa berubah. Tapi untuk kesekian kali kau tipu aku hanya demi temanmu yang baru kau kenal. Bagimu itu hanyalah kebohongan kecil. Selalu itu yang kau lakukan demi mendapat maaf dariku. Tapi apakah pernah kau berpikir sebaliknya? Pernahkah berpikir mengapa aku melarangmu ini dan itu? Aku hanya ingin menjagamu, dari apa yg sudah menyakitiku, aku tak ingin kau juga merasakannya. Dan bagiku, kesalahan tetaplah ada hukuman, tak peduli besar atau kecil. Semua itu tetaplah sebuah kesalahan. Aku tak ingin menjauhimu dan aku selalu menyediakan maaf yang tiada batas untukmu, tapi jika itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuatmu jera, maka akan kulakukan. Jujur saja mungkin aku hampir tak mengenal kata lelah untuk menghadapimu. Tapi bagaimana aku bertahan dengan seorang pembohong yang bahkan aku sendiri tidak pernah tega untuk membohonginya. Kenapa? kenapa kau tak pernah paham atas apa yang kujelaskan padamu. Kau tak pernah bisa mengerti arti kata "hanya untukmu" meski beribu kali kuucapkan. Saat kau baik2 saja kau anggap aku terlalu protektif, aku terlalu melarangmu ini dan itu, tapi lihat dirimu saat sudah kena batunya, kau cari aku, kau sesali perbuatanmu, membenarkan perkataanku, dan berjanji tidak melanggar laranganku lagi. Dan ini sudah terlalu sering terulang. Entah aku yang terlalu sensitif atau memang kau yang tak pandai menjaga perasaanku. Selalu saja ada kesalahan berikutnya darimu untuk menyakitiku, dan selalu saja ada kata "hanya masalah begini saja" darimu untuk memaksaku memaafkan dan tidak menghukummu. Mungkin aku bukanlah orang baik, aku bahkan tega berbohong pada keluargaku tapi tidak padamu. Aku terlalu lelah menghadapimu yang tidak pernah mengerti atas apa laranganku yang kulakukan demi dirimu, aku lelah menerima setiap kebohongan yang kau lakukan, aku lelah menerima setiap kalimat yang kau lontarkan seakan2 kau tidak bersalah. Aku lelah hidup denganmu. Mungkin kebohongan ini terlalu kecil untuk aku maafkan. Tapi ini tetaplah kebohongan, dan hitunglah sudah berapa kali kau bohongi aku. Jangan tanya aku kenapa tidak ingin memaafkanmu, tapi tanyakan pada dirimu masih pantaskah pembohong menerima maaf untuk kesekian kalinya. Pikirkanlah. Jika memang bagimu aku terlalu protektif dan banyak aturan, lebih baik aku mundur untuk bisa bersamamu. Aku sudah kehabisan kata untuk bisa membuatmu mengerti apa maksudku. Aku sudah kehabisan cara untuk menghukummu. Sudah lama aku ingin merubah diriku, diam padamu, membiarkanmu hidup tanpa laranganku. Tapi aku takut kau terluka, aku takut sesuau terjadi padamu saat aku tidak menjagamu. Tapi jika memang bagimu semua kata2 ku hanya angin lalu, untuk apa aku berdiri disini.