Selasa, 10 Januari 2017

Papaku, bukan kebanggaanku !!

Mungkin sebagian dari kalian akan merasa heran dengan judul ini, tapi sebelum kamu menjudge aku terlalu jauh, ada baiknya simak dulu ceritaku. Tulisan ini ku buat bukanlah untuk menjadi boomerang bagi papaku, tapi sebagai bentuk kekecewaanku terhadap dia yang sangat aku hormati dan aku hargai selama ini. Dia adalah seorang papa untuk ku sebagai putri kecilnya, dan untuk putra tersayangnya (my bro). Cerita keluarga ini dimulai dari nol, mama dan papa membangun rumah kayu sedikit demi sedikit, hingga aku bisa memiliki rumah sebesar ini. Keluarga kami bukanlah keluarga mapan dan bahagia seperti yang mereka lihat. Namun bagiku, dan bagi semua wanita yg melihat papaku akan bicara tentang kegagahan dan ketampanannya.

Aku selalu menjadi putri kecil kesayangannya, meskipun aku lebih nakal dari saudara laki-laki ku. Hal ini tak cuma aku yg merasakan, tapi semua orang dirumah iri terhadap perlakuannya padaku. Tentu saja aku bangga menjadi anak kesayangannya. Waktu usiaku 6 tahun, dia pergi untuk bekerja di Korea Selatan selama 2 tahun. Sedih bukan main yang aku rasakan. Setiap mendengar suaranya via telepon atau membaca surat kirimannya dan melihat barang pemberiannya aku selalu menitikkan air mata. 3 bulan pertama kepergiannya, aku selalu tidur dengan baju bekas keringatnya yang tak pernah dicuci. Jatuh sakit pun tak jarang aku lewati akibat rinduku padanya. 

Dua tahun kemudian, dia pulang. Hatiku gembira, sangat gembira. Namun, semenjak hari kepulangannya, aku tak pernah melihat peluhnya jatuh karena bekerja. Mama pun dengan sigap menggantikan perannya, karena tentu tidak cukup  jika hanya mengharap kost2an 6 pintu yang tidak selalu penuh di rumah lantai 2 kami. Tak terasa, aku pun tamat sekolah, Papa pun kembali bekerja. 

Lebih kurang satu tahun dia bekerja disana, kami pun dikenalkan dengan seorang teman kerjanya. Tak ada perasaan curiga, karena memang begitulah papaku biasanya. Perempuan jahannam itu pindah menjadi tetanggaku, dan berlaku sangat manis pada kami. Kami yang tak menaruh curiga pun menjadi sangat dekat dengannya. Namun namanya bangkai, tentu saja tercium juga. Benar saja, dia bukanlah wanita baik-baik. Ternyata jauh sebelum kami mencium kebusukan itu, semua tetangga sudah lebih dulu mengetahuinya. Malu, sangat malu. Tak perlu dibahas tentang malu, siapapun akan malu. Mamaku yang tidak pernah keluar rumah tanpa ijin suaminya, kini diduakan. Mamaku bagai katak dalam tempurung, tak pernah tau, tak pernah melihat, tapi mendengar perkataan orang tentang kami. Mamaku memang tidak cantik, jauh dari kata cantik. Bahkan banyak yang berkata bahwa mama dan papa tidak sepadan. Namun wanita pilihan papaku tidaklah lebih cantik dari mamaku. Bukan karena aku membela mamaku. Wanita ini tidak hanya buruk rupanya, tapi juga sikapnya, bahkan dia menceraikan suaminya demi papaku, gilanya lagi, anaknya mendukung ibu gilanya itu.

Papaku orang yang sangat setia, tidak mabuk, tidak berjudi, kami semua tau itu. Tapi kenapa? Apa yang terjadi kali ini sangatlah tidak pernah kami bayangkan. Mama memang tidak cukup bisa menyenangkan papa dengan penampilannya, namun mama menjaga kehormatan suaminya dengan mendengar apapun perkataannya, menggantikan papa bertahun2 untuk mencari nafkah, mengurus kami dirumah, hal itu tidaklah mudah jika harus mengimbanginya dengan mengurus kulit wajah dan tubuhnya. Meski begitu, bagiku itu lebih dari cukup, dan bodoh rasanya jika papaku menggantikan mama dengan wanita laknat itu. Kami yang tidak tahan dengan sikap papa yang keras, setuju jika dia menikah dengan perempuan itu, tapi mama tidak mau dimadu, dan kami tidak ingin tinggal dengan papa dan juga wanita itu. Tapi papa ingin keduanya.

Seiring waktu berjalan, masalah ini mulai hilang ditelan waktu. Namun kecurigaan mama masih ada, bahwa hubungan mereka masih berlanjut. Guess what?! Benar saja semua firasat kami. Lagi-lagi tetangga yang lebih dulu mencium keberadaan hubungan mereka. Kami malu lagi untuk kesekian kalinya. Semakin anak2nya tumbuh besar, papaku justru semakin jadi. Padahal saudara laki2ku sebentar lagi akan menikah, tidak lebih dari 2 bulan lagi. But see what is he doing? Dia selalu bilang pada mama bahwa apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Kata2 itu bermaksud agar mama menyetujui hubungannya itu. 

Aku tak pernah bertemu denga papa dan wanita itu saat sedang bersama. Aku ingin sekali bertemu mereka saat sedang berdua, dan aku akan memohon pada mereka untuk pergi dari hidup kami. Kewibawaan dan kebijaksanaan papa selama ini telah hilang. Bagi kami saat ini, papa sudah tidak ada. Apapun yang dikatakannya saat ini hanyalah kebohongan. Selama ini semua yang dia katakan adalah benar, dan apa yang dia kerjakan adalah sejalan dengan perkataannya. Tapi saat ini, semuanya terbalik, apa yang dikatakannya tetaplah benar, tapi apa yg dia perbuat sedikitpun tidak mencerminkan perkataannya. Aku yang dulu sangat bangga padanya, kini sudah tidak lagi. Bagiku papa sudah terkubur jauh didalam hati ini, bersama kenangan masa kecilku dengannya. Sekalipun rasa banggaku terhadapnya, kini sudah tiada. Hanya rasa malu yang tertinggal pada kami semua.

Maaf Pah, jika memang aku terlalu bodoh menulis persoalan ini di sosial media. Aku gak bodoh pah. Aku hanya ingin dunia tau betapa kecewanya aku memiliki papa sepertimu. Aku tak akan menjadi anak durhaka yang melawan padamu, tak ada gunanya pa. Aku hanya ingin melupakan kenangan yang tercetak saat bersamamu, dan semua rasa yang pernah kau berikan padaku. Aku juga tak akan pernah lupa siapa yang mengambil papa dariku. Aku bahkan telah lupa rasanya bangga memiliki seorang papa. Jika orang lain sedih saat ayahnya pergi, aku justru sedih karena tak memiliki rasa saat melihatmu pergi. Jika orang lain bangga pada ayahnya meski ayahnya telah mati, tapi aku malah tidak merasakan kebanggaan itu meski papaku masih berada tepat didepanku. Bagiku, bukanlah suatu kegagalan bagi seorang ayah jika anaknya nakal atau hamil diluar nikah, tapi lebih dari sekedar gagal jika seorang ayah tak mampu membuat dirinya terlihat dihadapan anak2nya, sekalipun hanya bayangannya, anaknya pun tak menghargainya.


Minggu, 08 Januari 2017

Geylang? Siapa Takut!!

Liburan? Singapore? Geylang?
Hayooo pusing kan?? Buat yang belum tau, aku kasih tau yaa, jadi Geylang itu adalah Red District Area nya di Singapore, tempat dimana para wanita-wanita menjajakan dirinya. Aku gak akan sebut wanita malam, karena siang juga nih tempat buka!! Sadis kan?

Jadi ini adalah kunjungan aku yg ke sekian kali ke Singapore, tapi baru pertama kali nginep dan pergi bareng doi. Setelah planning ke Thailand bareng doi gagal, akhirnya secara dadakan aku mencetuskan ide pada akhir Desember 2016 kemarin untuk ke Singapore dan doi setuju dengan syarat tunggu abis gajian dan pergi dengan budget pas-pasan. Tapi Tuhan punya rencana lain, di hari yang sama, siangnya doi telpon dia dapet job ke Aceh, waaaahhh dapet budget tambahan dong nih!! Gak papah deh gak ketemu seminggu. Pengennya sih tahun baru 2017 kemaren ke Singapore nya tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya yaudah ngaret deh, jadi tgl 6-7 Januari 2017. Ini semua karena banyak kerjaan dikantor, dan doi juga masih capek balik dari Aceh, trs ngebayangin ngantri di imigrasi Singapore, yaudaah keputusan fix, tgl 6-7 Januari ajah. Sambil nunggu hari-H aku search tempat makan murah, tujuan2 yang seru, bahkan aku sampe beli kamera coba, niat banget kan gue?! Emang udah dari lama pengen kamera sebenernya, cuma kmrn2 ngerasa msh byk yg lebih penting.

Hotel udh aku cek tiap hari tarifnya, yang murah, dan bagus, hahaa. Pengennya sih hostel biar dapet kan acara ngiritnya, tapi kebanyakan kamar mandi sharing, ada sih yang private room dengan kamar mandi di dalam tapi ratenya lebih mahal daripada harga hotel. Ah gak kepake!!  Pilihan jatuh pada Fragrance hotel-Crystal. Rate hotel ini sekitar 600ribuan gitu, tapi karena rajin search akhirnya aku dapet dengan harga 450ribuan ajah, cus bayar pake credit card, hihi, kapan lagi rate murah gini. Setelah booking, baru tau deh kalo ternyata itu hotel terletak di daerah asoy nya Singapore, hehe. Mulai parno, tapi gak takut kan bawa security gue kesana. H-1 aku baru cari tiket Ferry Batam Center-Harbourfront Singapore, Harganya cuma 320rb PP, adaa sih yang 315rb, cuma doi blg kapalnya jelek, yaudahlah goceng ini sih. Oh iya jgn tergiur dengan harga murah, harus perhatiin juga berangkat darimana dan berlabuh dimana, jangan sampe krna pengen irit malah kejauhan dari tempat tujuan, dan liat juga itu udh include tax atau belum, kebanyakan yg murah belum inc. tax. Tax di Indonesia 65rb, dan tax di Singapore SGD 7.

Besok paginya kita bangun jam 5, dan doi jam 6lewat baru sampe rumah aku. Udah pengen ngambek deh, soalnya pasti gak kebagian ferry paling pagi jam 7.10. Tapi ternyata masih kebagian, meskipun gak sempet sarapan. Sampe Singapore jam 9.10 waktu daerah sana (cepet 1 jam) antri imigrasi lama banget padahal itu hari Jumat loh. keluar dari ICA (Immogrations and Customs Authority), aku beli simcard Singapore dulu, gak terlalu ngerti dan gak terlalu urus juga sih, akhirnya bayarlah dengan harga SGD16, katanya pulsa SGD20, trs langsung minta di daftarin paket internet, dapetnya 1GB untuk 1minggu dan sisa pulsa SGD2,7, kebayang dong mahalnya kaya apa. Trus lanjut makan siang dulu di foodcourt dekat pintu keluar Habourfront dengan menu paling murah dan mungkin cukup bisa diterima lidah Indonesia, Nasi Ayam SGD4,8 (hah? nasi ayam nyaris 50ribu) aku gak kaget karena emg segini standard makan di Singapore. Kita gak beli minum cuma modal botol Tupperware 1liter aja karena katanya disana banyak keran air minum. Selesai makan langsung masuk Vivo City menuju Harbourfront MRT Station, Top-up EZ Link Card dulu sebelum jalan (min. Top up SGD10 jadi gue Top up SGD 10). 

Kita langsung ambil Jalur kuning menuju ke Stasiun Haw Par Villa, sampe di Haw Par Villa cari pintu exit yang kebetulan cuma ada satu jalan exit, dan Haw Par Villa nya langsung terpampang di sebelah kanan pintu keluarnya.

Di Haw Par Villa ini banyak terdapat patung dan diorama China yang penuh makna, tapi sayangnya waktu aku kesana lagi ada perbaikan, jadi gak bisa menyusup sampe setiap sudutnya, hanya depan2nya aja. Dari Haw Par Villa kita mau ke Handerson Waves Bridge (Jembatan kayu yang panjang nan tinggi dan terbuat dari kayu), untuk menuju kesana kita bisa berhenti di Station Redhill tapi harus transit dulu di Stasiun Buona Vista untuk pindah jalur  ke Jalur Hijau. Sampe di Redhill cari pintu keluar yang kalo gak salah cuma satu pintu exit deh, dan lanjut naik bus no. 145 dan turun di halte yang ada tepat di bawah Jembatan Handerson ini.


Jangan heran sama tangganya yang luar biasa tinggi banget, harus siap banget kaki dan mental kita, jangan sampe pingsan sebelum naik. Kita gak lama disini karena panas bgt siang bolong. Langsung turun dan nyebrang ke halte di seberang halte yang tadi kita turun karna arah mau balik, naik bus yg sama dengan tujuan ke Stasiun Redhill lagi. Dari sini kita mau lanjut ke Bugis, kita naik MRT ke  stasiun Bugis, dengan tujuan Pasir Ris atau Changi Airport (tujuan ujungnya) bukan yang ke Joo Koon yaa, kalo ke Joo Koon artinya kita balik lagi. Di Bugis yang katanya murah aku liat baju seharga SGD10 dan naksir bgt, tapi tuh orang gak mau ditawar, jadi fix gajadi beli, haha. Trus jangan lupa beli Juice SGD 1 disini ada beberapa penjualnya gak cuma satu, jus yg dijual juga macem2 loh!! Trus kita mampir beli coklat2an total belanja SGD 13,5 terus lanjut beli jam tangan SGD 5, di Batam juga banyak di Mall jual yg serba 50rebu, cuma kan tetep aja beda rasanya. Haha. Hari menunjukkan pukul 2 kurang waktu setempat, langsung meluncur ke Hotel buat Check In, karena jam Check In nya jam 3. Langsung menuju ke stasiun Aljunied, yups. Geylang!! 

Pas di pintu keluarnya stasiun Aljunied ini adalah lapangan olahraga tertutup buat anak sekolah sih kayanya, dan pas disamping kiri pintu exit ada penjual nasi seharga SGD 2,30 untuk satu paket Set A, murah bgt kaaannn?? "Syng, nanti kita makan disini aja ya!" tegas doi. Yaudah kami lanjut naik bus 62 dari halte di depan stasiun tsb dan berhenti di pemberhentian pertama yaitu Lor 18 Geylang dan jalan kaki sedikit sampai ujung gang, udah keliatan deh hotelnya. Yah ampun, ini mah deket tinggal jalan kaki doang!! Sepanjang gang ini, khususnya Lor 18, kita akan disuguhi rumah2 dikiri dan kanan, yang isinya mungkin kamar2 semacam hotel melati, dan di ruang tamunya kita bisa melihat wanita2 mirip banci Thailand duduk di tempat semacam aquarium/kursi2 tamu di ruang tamu tersebut, dalem hati berkata (gileeee nonstop nih nyari duitnya mba?? malem aja cukup kali yeee). Sampai hotel segera kita cek in dan masuk ke kamar masing2 untuk mandi, bersiap menuju ke Garden By The Bay, tapi karena doi hobby bola, dia ngajakin mampir ke stasiun MRT Stadium, yaudah deh boleh. Langsung mutusin balik ke stasiun Aljunied jalan kaki, dan makan di tempat yang tadi kita liat, cuma kena SGD 5,20 berdua itu karena doi nambah terong dicabein, terus beli minum buat isi botol kami SGD 1,20 (Air mineral 600ml). And wow bgt ketika sampe di Stasiun Stadium, langsung berada di arena Stadium nya, jadi muter2 deh disana. Banyak yg lagi olahraga sore juga disini karena di sekeliling Stadiumnya ada arena untuk lari yang dicat berwarna merah hijau biru.



Penat di Stadium, kita lanjut deh ke Garden By The Bay menuju stasiun Bayfront dan keluar menuju exit B. Jgn heran kalo yg keliatan Marina By Sand yaaa  karena masih harus jalan di taman tersebut dan menaiki jembatan yang di bawahnya ada sungai, atau kali, ah apalah namanya pokoknya aer (mirip jembatan merah di Kebun Raya Bogor). Cari tempat duduk enak deh sambil ngeliatin Bule disebelah kita yang baby nya putih bgt dan palanya botak kaya cimol, hihi. Nunggu malem disini lama banget, jam 8 kurang atau stgh 8 gitu baru gelap, jadi karena jalan balik ke stasiun agak jauh kita mutusin buat lgsg balik hotel aja. Sampe di stasiun Aljunied kita beli makan lagi disini, tapi cuma satu kotak buat berdua seharga SGD 2,30 dan beli air minum botol besar utk diisi ke botol kami lagi seharga SGD 2,30 kalo gak salah. Rencana pengen mampir beli airnya di Seven Eleven tapi yg 600ml aja sekita 2 dolaran gitu. kan mahal banget. Pengen beli permen mentos yang kemasannya bahan kaleng SGD 4,15, ah gajadi mahal banget!! Makanya beli minum di warung makan tadi aja. Menuju halte bus naik bus 62, sebenernya deket cuma gak kuat lagi kaki ini berjalan.


Besok pagi nya, bangun jam 10 waktu setempat. Buat teh dan bercengkrama, tsaaaahh, hahaha. Cek out hotel jam 11an gitu, langsung jalan kaki ke stasiun, dan makan lagi di tempat kemaren untuk terakhir kalinya sebelum pulang. Oh ya, menunya macam2 seperti prasmanan tapi tidak self service jadi kita tinggal tunjuk mau apa, tapi menu yang SGD2,30 itu adalah nasi (nasinya chicken rice), dan ayam goreng tepung (bagian sayap tapi cukup besar), dan telur mata sapi serta sambal merah manis (sambal favorit aku), ditambah satu irisan timun yang segar, rasanya Indonesia bangeeeettt!! Hargaa? udah percaya deh ini tempat makan murah banget dan mungkin yang termurah satu Singapore atau satu Geylang raya ini, haha. Terus lanjut top up card MRT karena sisa SGD4 doang, pas mau top up card aku, si doi malah letak card dia untuk di scan, jadi yang keisi card dia, emosi banget aku sebenernya. Akhirnya aku beli standard tiket aja deh. Soalnya katanya min. saldo EZ Lin SGD3 jadi aku takut kurang karena mau ke USS lewat Sentosa Boardwalk baar SGD1.

Menuju stasiun Raffles Place tanpa transit karena satu jalur, dan berjalan cari exit B, atau bisa juga lewat exit A, karena exit B agak susah dicari (sebenernya gampang) cuma kita bego kemaren jadi lewat exit A. kita akan disuguhi pemandangan Bank of China, Singapore Land Tower. Berjalan lah menuju Bagian belakang Bank of China yang menghadap ke sungai, atau Hotel Fullerton, berjalan menyusuri sungai dengan pemandangan lalu lalang kapal2 wisata khusus (tiketnya bisa didapatkan di sekitar tempat ini kalo gak salah disisi sungai di dekat Hotel Fullerton) dan bisa juga lewat Cavenagh Bridge atau Anderson Bridge, atau berputar di Hotel Fullerton dan bertemu simpang 3 Fullerton, menyeberang dan turuni anak tangga sampailah di Merlion. Disana kita ketemu teman baru yaitu dua anak China yang awalnya minta fotoin.

Dari sini juga kelihatan Marina By Sands, Esplanade (gedung durian), dan Art Science Museum (bangunan berbentuk bunga teratai. Pengen sih jalan ke Esplanade tapi hari sudah terlalu panas dan mengingat kami akan pulang sore ini sementara masih harus jalan kaki ke sentosa, jadi kami langsung balik.


Sebelum balik ke stasiun, mampir dulu makan es SGD1 disekitar sini banyak yang jual, aku ketemu 3 penjual disini, semacam es potong tapi rasanya seperti es krim w*ll's dengan diberi wafer. Duduk di sebelah orang Germany, dan ngobrol2 sedikit.
Lanjut ke stasiun Harbourfront dengan transit di Outram Park, sampai di Harbourfront carilah jalan menuju L1 yaitu pintu menuju Sentosa Boardwalk. berjalan keluar dan ikuti saja jalannya.
Jangan takut lelah, ada travellator kok. Kalo pengen foto2 tenang aja travellator ini putus2, jadi misalnya 100m travellator, lalu 5m jalan kaki biasa, lanjut lg travellator di depannya, jadi bisa berhenti dulu. Informasinya sih bayar SGD1, tapi kalo ada event tertentu atau hari libur ini free (yesss gratis!!)
Sampailah kita di Sentosa Island, ini adalah pulau yang terpisah dengan Pulau aslinya Singapore, tapi aku kurang paham juga konsepnya seperti apa. Untuk menuju Sentosa island yang di dalamnyaada Universal Studios Singapore ini, ada banyak cara. Bisa naik monorail melalui vivo city mall (SGD4), naik bus (katanya sih SGD2, tapi belum pernah coba), jalan kaki (via Sentosa Boardwalk), atau naik Cable Car (kereta gantung lah bahasa kitanya harganya mahal jangan tanya aku, karena gak punya duit buat nyobain) naik cble car dari vivo city juga sih katanya.
Sampe disini, foto2 di USS Globe, Candylicious, dan Hard Rock Cafe, terus cus balik ke Vivo City Mall naik monorail, perginya bayar, pulangnya mah gratis!!
Nah menurut aku, ini itinirery yang cukup lengkap, melelahkan, dan irit. Karena kita hanya pergi ke tempat2 yang sejalur. Selama disana kita berdua menghabiskan uang dengan rincian sbb:
Ongkos PP                      : 320ribu/orang
Hotel                               : 450ribu/kamar (kita ambil 2room, pisah)
Simcard Singtel              : SGD 16
makan di Harbourfront   : SGD 4,8
Top up MRT                   : SGD 12 (udah termasuk standard tiket)
belanja di bugis               : SGD 7 (berdua jadi SGD14)
jam tangan                      : SGD 5
makan dan I                    : SGD 2.30
makan minum malam      : SGD 5,50 (cuma beli satu kotak dan air mineral 1,5L)
makan minum pagi          : SGD 3,50 (air mineral 600ml)
es krim                             : SGD 1
makan di pelabuhan         : SGD 2,50 (sandwich 2 pcs, dan Teh/Kopi panas)
Jadi total SGD 59,60 dan 770 rb, tulisan yang coret itu adalah opsional, bisa beli bisa tidak atau bisa diganti dengan yang lain, minuman juga kalo ketemu keran air minum bisa isi, tapi kebetulan kami tidak menemukan jadi beli minum terus deh. dan itu adalah pengeluaran untuk 1 orang, kecuali minum, minum yang kami beli, kami minum bersama, tapi aku masukin di totalan aku supaya pembaca tau estimasinya berapa. Untuk lebih murah carilah hostel yang nyaman, aku milih hotel karena doi tidurnya ngorok, dan gak mau toilet sharing, jadi yaudah terpaksa sok kaya ambil hotel 2 room.

Sekian perjalanan kami di Singapore pukul 17.50 waktu sekitar bertolak dari Harbourfront menuju Batam Center dan tiba di Batam center 17.50 waktu sekitar (karena jam Singapore cepat 1 jam).