Hallo...
Kembali lagi nih aku buat berbagi cerita. Tapi sebelumnya, aku mau ngucapin terima kasih banyak buat semua pembaca yang udah berkunjung ke blog aku. Meskipun aku yakin 20% dari pengunjung blog ini adalah kekasih tercinta, but mudah-mudahan dia gak search satu-satu postingan aku ya. Kalo buat pengunjung lain kayanya gak ada yang kenal aku deh, karena dari awal nulis di blog ini sengaja gak cantumin identitas.
Ok, langsung aja ya, hari ini mau sedikit curhat soal si sayang (yah dia lagi) iya soalnya emang cuma dia temen deket aku. Beberapa hari terakhir ini dapet kabar gak enak nih, soalnya doi mau ada kontrak kerja yang mana kapalnya bakalan jalan medan-malaysia. Dan aku masih di Batam, itu masalahnya. Gak lama sih, cuma 6 bulan yah lewat-lewat paling setahun, cuma tetep aja judulnya LDR (Long Distance Relationship). Kalo kata orang yang pacaran jarak jauh itu orang yang kuat, skrg aku percaya sama slogan alay itu. Karena masalah yang aku hadapi skrg bukan lagi soal kepercayaan, atau kesetiaan, karena buat hal itu aku udh gak ambil pusing, cuma aku emang gak bisa jauh dari dia. Meskipun sebenernya dia kerja di deket sini juga ketemu paling seminggu atau sebulan 2x. Tapi perasaan gak nyaman aja kalo dia jauh banget gitu. Dan gara-gara itu masalah, kemaren malem kita tidur jam stgh 4 pagi, waaahh. Soalnya pas aku pulang kuliah jam setengah 11 aku telponan sama dia dan aku ngambek selama 5 jam telponan itu. Ditambah lagi paginya harus kerja, awwww. tidur cuma 2 jam lebih coeg. Kalo selama ini aku bodo amat sama mata panda, kemarena aku harus ribut sendiri masalah kantung mata ini, soalnya udah item banget parah. But alhamdulillah, semalem udah bisa tidur agak cepet karena masalah kita bedua udah selesai. Sebenernya masalah ini gak ribet, aku aja yang bikin ribet. Iya kan lo tau cewek itu ribet, hehe. Intinya ya aku yang kalah, karena aku memilih membiarkan dia pergi, soalnya aku yang penting duitnya balik *loh. Nggak lah yaa, emangnya gue cewek apakah (eh, apalah maksudnya). Aku biarin dia pergi, karena aku capek marah-marah dan dibujukin sampe aku gak bisa tidur.
Jadi fix selama dia pergi, aku harus cari pacar baru, hahahahaha *tertawa puas. Jadi itu bukan alasan buat selingkuh atau menjauh ya temen-temen. Tapi di saat begini lah kita khususnya para wanita diuji kesetiaannya, dan kepercayaan kita. Dan dia disana yang lagi cari duit banyak, juga diuji saat dia berada dalam kekayaannya. Mudah-mudahan setelah dia balik aku langsung dilamar *eh. Tunggu selesai kuliah dulu yaa.
Dari cerita ini aku cuma ingin menginspirasi temen-temen buat menjaga kebahagiaan dalam hubungan, apalagi yang udah berumahtangga. Meskipun ini doi sebel banget karena aku suka cerita ke temen deket aku. Tapi bagi aku semua orang butuh temen deket buat cerita, dan biarkan itu menjadi kebahagiaan tersendiri buat yang bercerita, yang mendengarkan, maupun yang diceritakan, wkwk. Buat yang lagi pada LDR, semangat yaa. Nikmati setiap rindu yang ada, karena itu adalah bagian dari kebahagiaan. See you readers...
Kamis, 17 November 2016
Rabu, 09 November 2016
Review Elora Cream
Setelah badai sama doi berlalu, akhirnya sekarang aku akan menyanyikan lagu Badai Pasti Berlalu *Loh?!* Nggak cuma becanda kale, serius amat. Kali ini aku balik lagi dengan postingan sotoy. But, ini bukan sotoy ya, cuma berdasarkan pengalaman. pribadi aja.
Cream Elora aman gak sih?
Jawabannya ya aman gak aman sih. Kenapa gitu? Iya karena namanya barang, apalagi cream kecantikan adalah sesuatu yang mudah banget di duplikasi, ditambah lagi kepribadiannya orang Indonesia yang 11 12 sama China yang hobinya "meniru". Gak bermaksud menjelekkan bangsa atau pihak manapun, tapi itu lah kenyataannya.
Aku udah hampir sebulan pake elora cream, dan hasilnya..... Sabar dulu, belum sampe situ. Nah jadi sebelum beli cream elora ini, aku sempet ragu karena emang sebelumnya aku pake cream dari klinik kecantikan di Bandung cuma gak ada perubahan yang signifikan di wajah aku, cuma bikin cape aja menggunakan produk yang ribet, banyak macem, harga mahal, dan gak worth it. Akhirnya dengan segala tipu daya testimoni dan bermodalkan sotoy-sotoy nya orang di internet, aku memutuskan mencoba cream elora ini.
Nah pertama nanya-nanya sama sista-sista yg jualan, aku ngerasa yakin bahwa seller ini menjual produk cream elora yang asli. Karena apa? Jadi dia bilang harganya 200rb (gak mahal kan yah), dan selama promo oktober setiap pembelian cream elora kita mendapatkan serum kefir gratis seharga 85rb. Cuma aku mikirnya yaudah kalo beli, terus bayar, dan dikirim tuh barang beserta gratisannya, but actually, itu gak segampang otak aku yang cetek ini. So, dia kasih kita semacam link resminya elora gitu, dan disuruh klik, nanti akan muncul kode promonya, trus kodenya kita kirim ke dia, jadi kan aku ngerasa yakin kalo tuh barang asli sambil bilang "wah keren yaa" haha norak lo!
Setelah barang sampe, aku mulai nyobain. produknya. Sabunnya itu wangi banget, busanya juga cukup banyak kok. Tapi untuk nyuci alis, harus sdikit digosok kuat, soalnya sabunnya gak cukup keren untuk bersihkan alis. Kalo untuk tonernya, cara pakenya sama aja sama toner lainnya, dituangkan ke kapas, trus di oleskan ke wajah dan tunggu sampai meresap. Tapi toner elora ini aku sarankan untuk gak menggosokkan ke wajah, cukup di templok-templokin ke wajah menggunakan kapas, karena wajah kamu akan terasa sedikit panas dan perih kaya kena cabe kalo misalnya digosokin. Itu disebabkan elora toner mengandung mentol jadi efeknya begitu. Nah untuk creamnya, lembut banget teksturnya dan gak lengket di wajah. But, meskipun secara keseluruhan cream elora ini enak banget digunakan, tapi sampai detik ini aku belum merasakan perubahan apapun sih di wajah. Tapi kembali pada prinsipnya bahwa semua keberhasilan tidak didapatkan dengan cara yang instan, jadi aku harus tetep sabar mungkin sampe 3 bulan baru bisa mengatakan cream ini worth it atau nggak.
Dan selain review diatas juga cream elora menyediakan tracking code untuk memastikan bahwa produk yang kita dapatkan adalah asli. code ini terdapat di segel kotaknya (semacam isolasi gitu) dan kita gosok deh penutupnya dengan koin, dan muncul lah code (paduan angka dan huruf) disana, lalu kita bisa track melalui situs elora www.elorabeautycare.com. Tapi sekali lagi, ini juga bukan solusi yang tepat sebenarnya, karena tracking code ini bisa di tracking 2x (berulang) sehingga memungkinkan untuk digunakan 2x bagi penjual nakal.
Ok, segitu aja review aku soal cream elora, semoga bermanfaat!!
Senin, 07 November 2016
Trust and Honesty
Hi
Tell’rs,
Semoga
kamu semua dalam keadaan baik-baik saja ya dimana pun kamu berada. Postingan
kali ini aku gak bakal share tentang tips,
review produk, ataupun hal-hal yang berbau sotoy. Sekarang aku pengen
ngomong serius di blog aku yang banyak banget pengunjungnya ini *soookkk*
Amiinn, tentang seseorang. Let’s kepo below!!
Dalam
hubungan itu ada yang namanya kesetiaan dan kasih sayang, yang terbentuk dengan
adanya kepercayaan dan kejujuran. Seringnya aku merasa aku yang jadi korban
perasaan, dari mulai dibohongin, dicuekin, dimarahin, dijelek-jelekin, sampe
diselingkuhin juga pernah sama mantan yang dipojokan sana. Hi mantan, liat aku
dong, kamu kok bahagia banget keliatannya, jangan selingkuh lagi ya. Kekasih
hati yang sekarang ini bukanlah seseorang yang pantas dibanggakan, bukan dia
yang cakep, tajir, pinter, pekerjaannya bagus, apalagi mapan. Semuanya serba
dari nol. Tapi dengan keadaannya yang gak bisa aku banggakan, bukan berarti aku
gak bangga sama dia. Aku bangga sekali bisa jadi penyemangat dia untuk bisa
dapetin pekerjaannya yang sekarang, bisa jadi penguji sabarnya yang terbaik,
dan bisa disebutkan namaku disemua telinga teman dan keluarganya.
Kami
membangun kisah cinta ini tanpa modal apapun, tidak saling mengenal dan tidak
pernah bertemu sebelumnya, apalagi saling percaya. Kami hanya bermodal
pengalaman cinta yang pahit dan bertekad melupakan itu semua, serta membangun
hubungan yg serius. Sejak pertama aku mengenalnya, cinta ini tak sekalipun
redup. Keyakinanku selalu membawaku padanya. Bukan sekali dia berbohong, berbuat
salah, bahkan hubungan ini hampir patah karena sikapnya, tapi itu semua
bukanlah alasanku untuk meruntuhkan kepercayaanku padanya. Sekalipun aku
mengatakan bahwa aku tak akan pernah bisa percaya lagi padanya, aku tak mampu
melakukannya. Dan aku tau bahwa dia tau itu. Doaku ini selalu ingin menjadi
pendampingnya yang abadi meskipun banyak rintangan untuk mewujudkannya.
Kepercayaan memang faktor utama, tapi bukan berarti hanya dengan itu semuanya
bisa terwujud.
Profesinya
yang cukup sibuk membuatku jarang sekali tatap muka dengannya. Tapi sekali lagi
itu bukan alasanku untuk berpaling ke lain hati. Keadaan itu memaksaku untuk
melakukan semuanya secara mandiri. Tidak ada istilah “pacarku ojekku”. Hujan
panas kemana-mana sendirian. Karena itu aku harus bisa menjaga diriku sendiri
saat harus pulang malam dari kampus, ya karena memang aku jarang sekali keluar
sama temen-temen. Aku tau sehebat-hebatnya aku menjaga diriku sendiri, aku
tetaplah wanita, lemah. Jadi memang harus pandai-pandai bergaul dengan teman
laki-laki untuk bisa mengiringi motorku saat pulang kuliah. Awalnya aku gak
pengen menceritakan ini pada dia, tapi aku sudah terbiasa jujur pada pasangan
sehingga aku harus bilang ke dia dengan harapan dia akan mengerti. Yap, tepat
dugaanku, dia mengerti akan hal itu, tapi sekali lagi yang membuatku kecewa
adalah dia tidak bisa menerima hal itu begitu saja.
Aku
maklumi, bahkan sangat mengerti akan kecemburuannya itu. Tapi apa masalahnya?
Dulu juga aku pulang dengan teman laki-laki di kampus sebelumnya. Aku masih tak
habis pikir dengan kecemburuannya yang berlarut-larut itu. Iya aku tau aku
salah, kenapa harus laki-laki? Karena memang laki-laki yang bisa melindungi,
dan memang hanya dia yang pulang searah denganku. Kenapa juga harus bilang ke
doi? Aku hanya ingin jujur karena aku tidak suka dibohongi. Dia boleh cemburu,
tapi jangan berlarut-larut. Serba salah sih aku, disatu sisi aku juga mungkin
akan melakukan hal yg sama kalo aku di posisi dia, tapi disisi lain keselamatan
aku terancam. Aku cukup kecewa dengan kecemburuan itu, bukan karena dicemburui,
tapi karena dia tidak bisa percaya padaku, dia tidak bisa melihat kejujuranku
selama ini. Sekarang aku jadi merasa seperti semua yang aku lakukan untuk
mendapatkan kepercayaannya selama ini hanya sia-sia. Rasanya tidak perlu
bersusah payah untuk jujur selama 2 tahun jika akhirnya hanya bisa diragukan.
Aku
tidak berkata bahwa dia salah, dan aku yang benar. Aku tidak bicara tentang
kebenaran. Tapi tentang kepercayaan. Aku cukup kecewa dengan pembahasannya
tentang hal ini yang sampai berhari-hari belum selesai. Bagiku, kejujuran tak
pernah membutuhkan kepercayaan untuk menunjukkan bahwa seseorang memang jujur.
Jadi aku masih ada disini, bukan untuk mendapatkan kepercayaannya, karena
kejujuranku tak akan menjadi kebohongan hanya karena tidak dipercayai. Dan aku
tak akan peduli apakah dipercaya atau tidak, aku akan tetap melakukan
kejujuran.
Sekian aja ya kekesalan aku karena gak dipercaya pasangan. Pesan yang bisa aku bagi adalah tetap lakukan kejujuran sekecil apapun itu, dan jangan mundur hanya karena gak dipercaya. Dan buat yang gak percayaan, cobalah buat percaya karena tidak dipercaya itu sakit sekali, apalagi yang tidak kita percaya adalah orang yang selalu jujur pada kita. Jangan sampai kita menyesal karena sudah tidak percaya, apalagi sampai menuduh, jangan yaaa!
Langganan:
Komentar (Atom)